Setiap Langkah Adalah Anugerah

Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer pada suatu hari di tanggal 1 Desember. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakan nya, bernama Ralph.

Ralph yang dikirim untuk menjemput sang profesor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor. Ketika berjalan keluar, Ralph sering tiba-tiba bergerak menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka. Kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Dari mana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu?” tanya sang profesor.
“Melakukan apa?” kata Ralph.
“Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?”
“Oh,” kata Ralph, “Selama perang, saya kira.”

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam sambil tersenyum. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya. “Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah,” katanya. “Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan anugerah dan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.”

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas dan bermakna bagi diri dan orang lain.

Makna Ketiadaan

Suatu hari di sebuah kelas tampak seorang profesor dengan para mahasiswanya bertanya jawab. Lelaki profesor itu bertanya pada mahasiswa-nya: “Apakah semua yang ada adalah ciptaan Tuhan?” Seorang mahasiswa yang duduk paling belakang spontan menjawab, “Ya, Profesor, Tuhan memang menciptakan semuanya. Saya rasa kita semua tidak meragukan hal itu.” “ Itu benar,. Keterangan tentang itu banyak terdapat di kitab-kitab suci,” sahut mahasiswa lainnya.

Sang Profesor hanya mengangguk. Sesaat beliau tampak setuju dengan jawaban mahasiswanya. Namun tiba-tiba beliau bertanya lagi, “ Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan Kejahatan. Sebab kejahatan itu bukan sekedar khayalan, tapi benar-benar real. Kalian bisa melihatnya disurat-surat kabar kriminal. Nah, jika kejahatan itu ada dan setiap yang ada pasti ada penciptanya, maka Tuhan lah yang menciptakan kejahatan. Kalian yang bilang sendiri tadi bahwa Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan kejahatan.”

Kedua mahasiswa yang tadi menjawab kali ini cuma bengong. Beberapa mahasiswa lain juga kelihatan tercengang. Melihat mahasiswanya “kalah”, profesor itu kemudian tersenyum. Kedua matanya berbinar senang. “Nah, kini jelaslah bahwa agama hanyalah mitos. Bahkan mungkin Tuhan sendiri hanya ada dalam bayangan kalian, bukan diatas langit sana.”

Seorang mahasiswa tiba-tiba mengacungkan tangan dan berkata, “Profesosr , boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja”, jawab si Profesor dengan senang. Mahasiswa itu kemudian berdiri, “Profesor, apakah dingin itu ada?”, ujarnya. “Pertanyaan macam apa itu?tentu saja dingin itu ada. Apa selama ini kamu tinggal di gurun pasir?” sahut Profesor yang kemudian diiringi tawa mahasiswa lainnya. “Kenyataannya, Pak,” jawab mahasiswa tersebut, “dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.” Kelas hening. Sesaat kemudian mahasiswa itu kembali berkata, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Kelas makin hening. Sang Profesor diam-diam meringis. Tiba-tiba mahasiswa itu bertanya lagi, “Profesor, apakah kejahatan itu ada? Dengan bimbang, profesor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah ku katakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di  Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.” Namun mahasiswa itu lagi-lagi membantahnya.

“Sekali lagi Anda salah, Pak. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan kasih sayang Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”  Profesor itu terdiam. Mahasiswa itu kembali duduk. Untuk sesaat ruang kuliah dipenuhi keheningan hingga suara profesor memecahnya. “Siapa nama mu, Nak?” “Albert, Sir. Albert Einstein……” (source: unknown).

Ketiadaan atau ketidakhadiran Tuhan dalam hidup kita adalah penyebab dari munculnya perasaan takut, kuatir, dsb.

Yoh 15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku

Alasan Pria Tak Nyaman dengan Wanita Bergaji Besar

Kalau pria resah oleh pendapatan wanita yang lebih tinggi darinya, penjelasannya tak selalu dengan alasan iri hati atau dendam, begitu pendapat Liza Mundy dalam bukunya The Sex Richer.

Pria dibesarkan dengan sebuah nilai bahwa ia adalah tulang punggung keluarga. Itu sebabnya ia mengambil peran sebagai pencari nafkah utama dengan serius. Pria masih menganggap mencari nafkah sebagai kewajibannya. Tak heran, mereka  merasa harus memberikan kontribusi yang sama banyak atau lebih daripada istrinya, dalam rumah tangga. Tak jarang pula mereka akan menyalahkan diri sendiri ketika mereka merasa tidak mampu.

Sosiolog Ilana Demantas dan Kristen Myers mendapatkan gambaran pola pikir ketika mereka mewawancarai sekelompok orang yang kehilangan pekerjaan selama resesi besar. Banyak yang kehidupannya kini didukung oleh istrinya.

Para pria ini mengerti betapa berharganya memiliki pasangan yang mencintai mereka dan tetap setia dalam kondisi krisis. “Ini berkah, istri saya bekerja dan berpenghasilan bagus,” kata seorang responden yang diwawancarai peneliti. “Jika saya tinggal sendiri, saya akan berada dalam kesulitan.” Untuk menunjukkan rasa terima kasih mereka, orang-orang ini membantu dengan cara apapun.

“Saya membantu pekerjaan rumah, karena itulah cara saya berterima kasih” kata salah seorang responden yang lain. Yang lain lagi berkata, “Saya bangun pagi-pagi dan membuat kopi setiap hari untuk Colleen (istrinya), sebelum dia pergi kerja agar ia bisa tidur sedikit lebih lama.”

Berkaca pada temuan ini, para penulis penelitian  menyimpulkan  pria  telah tiba di persimpangan jalan psikologis. Krisis ekonomi menyajikan mereka dengan “ruang yang unik” untuk mempertimbangkan kembali segala sesuatu yang mereka percaya tentang peran wanita.

“Responden kami menghargai pekerjaan perempuan penting untuk kelangsungan hidup keluarga mereka,” kata mereka. “Alih-alih mengekspresikan kebencian terhadap perempuan tempat bergantung, mereka menyatakan terima kasih dan penghargaan terhadap wanita.”

Pria dalam studi masih merasa mereka harus memberikan kontribusi. Mereka sangat terguncang oleh ketidakmampuan mereka untuk menyediakan nafkah.  “Ini membuat Anda, atau setidaknya saya, merasa kurang lengkap menjadi pria.”

Jadi tak ada iri hati dan kebencian pada wanita yang menjadi tulang punggung keluarga. Yang benar adalah, jika suami terganggu oleh pendapatan istrinya yang lebih tinggi, seringkali itu hanya karena ia khawatir sudah tak berharga lagi. Lebih buruk istri akan pergi, jika mereka tidak mampu memberikan nafkah.

 

Sumber: kompas.com/Shine

12 Fakta Mengejutkan tentang Selingkuh

Katanya perasaan istri sangat sensitif dan suka punya firasat bila suami macam-macam. Anda percaya itu?  Lalu ada juga yang percaya bahwa perselingkuhan terjadi jika suami tidak puas atau bahagia dengan istrinya. Kenyataan belum tentu begitu.Menurut sebuah penelitian Rutgers University, 56 persen laki-laki yang berselingkuh mengaku bahagia dalam  pernikahan mereka. Nah, para ahli menjelaskan fenomena ini dan menghilangkan mitos popular lainnya soal perselingkuhan.

Fakta 1: Kebanyakan laki-laki masih cinta dengan istri mereka ketika selingkuh
“Perselingkuhan biasanya terjadi pada fase companionate love, ketika pasangan mulai menetap, punya anak dan memantapkan kehidupan yang dibangun bersama-sama,” kata Psikolog Klinis, Andra Brosh, PhD.  Sementara banyak area yang sudah mapan, biasanya sisi romantis mulai hilang. “Kami lebih sering memikirkan perempuan yang mengeluh tentang kurangnya asmara, namun laki-laki juga merasa hal itu juga,” kata Dr Brosh. “Mereka sering suffering in silence (memendam semua penderitaan). Mereka percaya hal  tersebut tidak bisa lagi didapatkan dari pasangan mereka.” Untuk menghindari hal ini dalam pernikahan Anda, rencanakan pergi keluar bersama, menyisihkan waktu untuk seks dan mendiskusikan harapan dan impian. Jangan hanya bicara soal pekerjaan dan anak.

Fakta 2: Laki-laki biasanya selingkuh dengan perempuan yang mereka kenal
Laki-laki yang selingkuh umumnya tidak mengambil perempuan secara acak di bar. “Banyak perempuan berpikir bahwa semua perempuan selingkuhan adalah perempuan nakal. Kenyataannya tidak benar. Hubungan biasanya dimulai dari persahabatan terlebih dahulu.” Bahkan, lebih dari 60% perselingkuhan bermula dari urusan kerja. Pastikan suami Anda merasa lebih terhubung dengan Anda daripada rekan bisnisnya. “Suami isteri pergi bekerja, mengurus anak-anak mereka dan melakukan hal-hal yang terpisah di malam hari. Itu harus dihentikan,” ujar Mary Jo Rapini seorang pakar Intimacy. Dia menyarankan selalu pergi tidur pada waktu yang sama dan berpelukan.

Fakta 3: Laki-laki selingkuh untuk menyelamatkan pernikahan mereka
“Laki-laki suka pasangan mereka, tetapi mereka tidak tahu bagaimana untuk memperbaiki masalah hubungan mereka, sehingga mereka mencari alternatif di luar untuk mengisi hal yang kosong,” Susan Mandel, PhD., Family Therapist. Laki-laki memiliki gagasan miring bahwa perempuan lain akan membuat kerinduan untuk sesuatu yang kurang menghilang. Kemudian, mereka dapat hidup bahagia selamanya dengan istri mereka tanpa menghadapi serta berusaha menyelesaikan masalah yang nyata.

Fakta 4: Laki-laki membenci diri mereka sendiri setelah selingkuh
Anda mungkin berpikir laki-laki yang selingkuh tidak memiliki moral, tapi sementara yang mereka lakukan tidak bermoral, mereka cenderung membenci diri . “Jika dia menempatkan egonya ke samping, ia akan merasa seperti sampah,” kata pakar hubungan Charles J. Orlando, penulis buku The Problem with Women…Is Men.

Fakta 5: Laki – laki yang selingkuh makin mesra dengan istrinya
“Ketika seorang laki-laki mulai selingkuh, ia menjadi hiperaktif secara seksual,” kata Rapini, Lebih jauh ia menjelaskan bahwa dorongan seksualnya telah dibangunkan, dan istrinya masih orang yang paling nyaman dalam urusan seksual. Jika Anda melihat perubahan mendadak dalam dorongan seksual suami Anda, itu bisa jadi lampu merah. “Saat hubungan perselingkuhannya makin kuat ia akan mulai menarik diri.”

Fakta 6: Perempuan juga bisa selingkuh
Sebuah studi Indiana University menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan selingkuh pada tingkat yang sama. “Tapi alasannya berbeda,” kata Orlando. Dia menjelaskan perempuan lebih mungkin selingkuh untuk kepuasan emosional. “Selingkuh online – tanpa kontak fisik – adalah jenis yang paling merusak dari perselingkuhan,” kata Orlando. Sebab bila perasaan Anda sudah diberikan pada orang lain. Itu sama saja Anda sudah keluar dari pernikahan.

Fakta 7: Seorang istri seringkali tahu suaminya selingkuh
Bagaimana bisa mantan istri Tiger Woods, Elin Nordegren, dan mantan Arnold Schwarzenegger, Maria Shriver, tidak tahu suaminya yang high profile berselingkuh? Mereka mungkin mengetahuinya, tapi tidak tahan untuk mengakuinya.

Fakta 8: Pernikahan tidak akan bisa diselamatkan di tengah perselingkuhan
Laki-laki mungkin setuju untuk menyelamatkan pernikahan tapi itu bukan berarti menghentikan hubungannya dengan perempuan lain. “Suami sedang dalam hubungan yang menyenagkan tanpa semua drama yang ada dalam hubungan stabil,” kata Orlando. Pernikahan kemungkinan akan gagal, kecuali ia memutuskan dengan kemauannya sendiri bahwa hidupnya tidak lebih baik dengan perempuan lain. Jadi kuncinya adalah pencegahan. Terus menjadi perempuan yang membuatnya jatuh cinta pertama kali. “Perempuan sering berubah dari pacar yang penuh kasih menjadi istri cerewet yang suka mengomel.” Jangan pelit memberinya pujian dan mengejutkannya dengan seks.

Fakta 9: Perselingkuhan bisa memperbaiki pernikahan
Apakah perselingkuhan merupakan akhir dari sebuah hubungan? Tidak selalu. Meskipun hubungan baru yang menarik, “Perselingkuhan dapat menghidupkan kembali pernikahan,” kata Orlando. “Laki-laki menyadari akan orang yang mereka inginkan untuk sisa hidup mereka dan bahwa hubungan baru tidak sesempurna yang mereka pikir.”

Fakta 10: Setelah membangun kembali pernikahan, suami masih merindukan selingkuhannya
Dia mungkin mencintai istrinya dan ingin menyelamatkan pernikahan, tapi dia tidak benar-benar lupa tentang perselingkuhannya. “Dia mungkin akan merindukan hal-hal yang besar tentang perempuan menyenangkan lainnya, kebebasan dari tanggung jawab, seks, seringkali ia juga merindukan perasaannya ketika bersama dengan dia, “kata Orlando.

Fakta 11: Laki-laki yang selingkuh sadar ia merobek kebahagiaan keluarganya
Seorang laki-laki mungkin menyadari dampak negatif pada, keluarga, istrinya dan dirinya sendiri, tapi masih tetap berselingkuh. “Ini semua dalam persepsinya, Jika dia merasa tidak diinginkan, undervalued dan taken for granted, kebutuhan pribadinya yang diinginkan, dihargai dan dihargai akan menang.”

Fakta 12: Perselingkuhan terjadi bukan salah istri
Menyadari hal ini: Jika suami Anda tidak setia, itu bukan kesalahan Anda, tidak peduli apa yang orang katakan. “Ketika dia selingkuh, dia membuat pilihan yang sadar untuk melakukannya,” kata Dr. Brosh.

Kompas.com/ Sumber: Womans Day

SENYUMLAH…

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali. Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ di tempat itu.

Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat  prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan. Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan saya) dalam nampan terpisah. Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.” Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian,Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.” Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak2ku!”

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu di antaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”

Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke arah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambai2kan tangannya ke arah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini di tangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang  duduk di deretan belakang di dekat saya di antaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper saya. “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.” Dengan cara-Nya sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana  cara mencintai sesama, dengan memanfaatkan sedikit harta-benda yang kita miliki, dan bukannya mencintai harta-benda yang bukan milik kita, dengan memanfaatkan sesama! Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya ‘sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu. Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan Hatimu, Salam bahagia!

Sumber: unknown

Universitas Kehidupan

Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS

Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR

Jika setiap do’a kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR

Seorang yang dekat dengan TUHAN, bukan berarti tidak ada air mata

Seorang yang TAAT pada TUHAN, bukan berarti tidak ada KEKURANGAN

Seorang yang TEKUN berdo’a, bukan berarti tidak ada masa masa SULIT

Biarlah TUHAN yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena TUHAN TAU yang tepat untuk memberikan yang TERBAIK

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN

Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN

Ketika hatimu terluka sangat dalam……, maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN

Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN

Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAH – HATIAN

Tetap Semangat!Tetap Sabar!Tetap Tersenyum!
Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN

TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”

Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan.
MEREKA di bentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.

Sumber: Catatan Dahlan Iskan., disadur dari Buku “Sepatu Dahlan Iskan.”