Lebih yang Tak Seharusnya
Pandanglah langit sesekali pada merah atau hitamnya kelak.
Langit selalu saja rendah hati. Dan langit selalu memberikan pelajaran. Ia tak pernah menampakkan kehebatannya. Apalagi menyombongkan ketinggiannya di luar perintahNya. Padahal langit sudah sedemikian tinggi.
Begitu sejuk saat memandang langit pagi. Begitu biru dan putih memancarkan warna serasi dan mencerahkan mata. Dan langit senja, tak kalah harmoni dengan kilauan bintang gemintang nan penuh cahaya. Semua begitu pas. Tak kurang apalagi berlebih. Mereka sinergi.
Manusia begitu rendah menetap di dunia. Namun sering merasa lebih tinggi dari sekedar langit milikNya. Bahkan dalam sebuah sujud kerendahan, kita dipayungi langit
keagunganNya. Ada sebuah syair indah yang ditorehkan
Ustadz Rahmat Abdullah, semoga Allah SWT mengasihi beliau:
Merendahlah,
engkau kan seperti
bintang gemintang
berkilau dipandang orang
di atas riak air
dan sang bintangpun jauh tinggi
janganlah seperti asap
yang mengangkat diri tinggi di langit
padahal dirinya rendah hina.
Padahal, kerapkali kita berperilaku seperti asap.
Meninggikan dan merasa diri begitu mulia. Tak ingin
sedikitpun kemulian yang kita anggap ada itu sirna dari
diri. Dengan ketinggian yang kita agungkan, sesungguhnya
menyimpan kehinaan yang tercium di balik kerendahan terbangnya.
Berharap begitu besar akan pujian di sekeliling kita terhadap semua yang kita lakukan, namun tak pernah didapat. Semakin berharap, semakin pula bau asap yang menyesakkan dada itu tercium.
Namun amat berbeda dengan bintang gemintang yang begitu tinggi di sana. Bercahaya bertahtakan sinar mulia sebagai kekasihNya. Hati, terkadang tak pernah bernilai bila
selalu bergantung pada sebuah ketinggian yang semu dan sementara.
Padahal, ada sebuah atap langit milikNya tempat semua doa dan cita mengudara, dimana semua hati yang terpilih, mendekap ketinggian hakiki bersama kemuliaan akhlaq yang
melahirkan kezuhudan dan keikhlasan yang luar biasa.
Wallahu”alam
by: Ahmad Hambali
Sphere: Related Content
No Comments »
Filed under: Wise Life
Antara penting dan tidak penting, antara patut dan tidak patut. Aku berfikirnya seperti itu. Sampai sama sekali belum terucap. Terbayang ketika melihat film-film Saur Sepuh dimana salah satu bintangnya adalah Jerangkong dengan senjata andalannya benda yang membentuk busur panah, ketika tali dari busur panah tersebut dipetik atau digesek akan mengeluarkan bunyi yang bisa memecahkan gendang telinga lawannya. Begitu juga yang terjadi di film Tutur Tinular dimana suara merdu Arya Dwipangga “Syair Berdarah” dan bunyi serulingnya sanggup mempedayai dan memusnahkan musuh-musuhnya.
Tentunya tidak 100% hilang dari ingatan kita, apa yang terjadi di 3 dini hari…!!!
Cinta anak cucu manusia itu unix, tidak hanya sebatas pacar atau kekasih. Tetapi di cinta sebagai teman, sahabat, atau saudara tidak akan menghilangkan makna cinta sesungguhnya. Pastinya sesuatu yang dirasa akibat treatment dari cinta tersebut jelas berbeda. Manis pahitnya ketika di cinta sebagai kekasih akan sangat berbeda ketika disandingkan dengan manis pahitnya di cinta sebagai teman.
Sesungguhnya mereka-mereka yang memiliki hikmah yang utama adalah Rasulullah, Nabiyullah, Waliyullah, bukan karena mereka mengetahui yang ghaib, tetapi karena Allah telah memuliakan mereka dengan ilmu hikmah yang lebih. Allah menganugerahkan ilmu hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi ilmu hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran (al Qur’an).
Cerita seekor anak kerang di dasar laut yang mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.”Anakku,” kata ibu sambil bercucuran air mata , ”Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, anggota tubuh seperti laiknya makhluk Tuhan yang lain, sehingga Ibu tak bias menolongmu”.”Si ibu terdiam, sejenak” Aku tahu bahwa itu sakit anakku, tetapi terimalah itu sebagai takdir. Kuatkan hatimu, besarkan hatimu. Fokuskan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menghimpit dan menguntit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat anakku, pesan ibunya dengan rasa iba yang mendalam.
Anglo-Saxon adalah sebuah wilayah yang menarik. Nama Anglo-Saxon, sejak abad ke-8 lazim dipakai untuk menyebut penduduk Britania Raya, yakni bangsa Germania yang berasal dari suku-suku Anglia, Saks, dan Yut. Konon, pada tahun 400 M mereka menyeberang dari Jerman Timur dan Skandinavia Selatan untuk menaklukkan bangsa Kelt, lantas mendirikan 7 kerajaan kecil yang disebut Heptarchi. Mereka dinasranikan antara 596-655 M.