Mengejar Kekudusan

Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div.

Setelah menebus dan  menyelamatkan umat-Nya dengan pengorbanan Yesus Kristus yang sangat mahal di kayu salib, maka hasrat tertinggi dari hati Allah terhadap umat-Nya adalah agar mereka hidup dalam kekudusan-Nya (1 Pet. 1:18-19,  15-16). Ayat-ayat tersebut sangat jelas menegaskan bahwa tuntutan dan panggilan untuk hidup kudus bagi orang Kristen harus selaras dengan keberadaan Allah yang sempurna dalam kekudusan-Nya. Itulah sebabnya kitab Ibrani menegaskan agar orang percaya mengejar keku-dusan hidup: “…kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibr. 12:14).

Kata kerja “mengejar” menekan-kan suatu tindakan yang menuntut segala usaha dan kekuatan yang dimiliki seseorang untuk mencapai kekudusan hidup tersebut. Gambaran tentang tindakan mengejar sangat jelas terlihat dalam sema-ngat dan ambisi para caleg atau capres dalam masa pemilu seperti saat ini. Untuk itu mereka mengu-ras tenaga, waktu, pikiran dan pastinya harus mengeluarkan banyak uang, bahkan ada yang harus menggadaikan segala harta mereka.
Gambaran lain tentang usaha mengejar sangat mudah kita pahami dalam berbagai aktivitas olahraga, siapa yang telah berlatih dengan disiplin dan dengan persia-pan terbaiklah yang akan memenangkan pertandingan. Atau mungkin saat ini Anda sedang mengejar suatu cita-cita atau ambisi yang menguras semua konsentrasi, tenaga, uang dan menuntut semua upaya untuk meraihnya. Semangat dan ambisi seperti inilah sebetulnya yang harus dimiliki oleh setiap orang Kristen dalam usaha mencapai hidup kudus sebagai-mana yang dikehendaki Allah.

Tantangan Pengudusan

Ada orang Kristen yang meng-ajukan pertanyaan seperti ini: “Jikalau pasti masuk sorga untuk apa bersusah-susah mengejar kekudusan? Untuk apa mengejar kekudusan, jikalau setiap perbua-tan dosa yang diakui di hadapan Allah akan diampuni oleh Allah? Pertanyaan semacam ini pasti mun-cul dari ketidakmatangan keroha-nian seseorang atau dari pemikiran seseorang yang sedang memikir-kan untuk mengejar kesenangan dosa  dan sama sekali tidak memiliki ambisi untuk menyenangkan Allah dengan mengejar kekudusan. Di sisi lain bagi orang seperti ini memakai pengampunan Allah sebagai alat untuk melegalkan perbua-tan dosanya, serta tidak menyadari bah-wa sekalipun Allah mengampuni per-buatan dosa umat-Nya namun hukuman dan dampak dosa akan dialami orang tersebut. Kemalasan untuk bertumbuh di-tambah dengan ke-biasaan hidup mencintai dosa adalah musuh utama dan halangan terbesar seorang Kristen untuk bertumbuh dalam kekudusan. Setiap orang Kristen dengan kerohanian yang terbaik sekalipun akan mengakui bahwa mengejar keku-dusan sangatlah berat dan sulit.

Tidak ada  jalan mudah menuju kekudusan, jatuh bangun akan dialami oleh setiap orang yang berusaha mengejar kekudusan, bahkan seringkali disertai rasa frus-trasi. Jerry Bridges dalam bukunya “The Discipline of Grace” (1994), menuliskan: “Anda boleh yakin satu hal, ketika Anda menetapkan diri untuk mengejar kekudusan secara serius, Anda akan mulai sadar bahwa Anda adalah seorang berdosa yang payah. Jika Anda tidak berakar kuat pada Injil dan tidak belajar mengkhotbahkan Injil kepada diri Anda setiap hari, Anda akan lekas tawar hati dan menjadi kendor dalam mengejar kekudusan.”
Surat Yohanes memperingatkan kita: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.” (1Yoh 2:15). Kekudusan juga dinyatakan sebagai syarat agar seseorang dapat melihat Allah: “…sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Tentu ayat ini bukan sedang meng-ungkapkan rahasia tentang bagai-mana orang Kristen bisa melihat Allah secara kasat mata. Arti kata “dapat melihat Allah” menggam-barkan suatu relasi yang intim antara orang Kristen dengan Allah dan di mana seseorang betul-betul dapat mengalami kehadiran dengan Tuhan secara nyata dalam hidupnya. Tetapi untuk sampai pada keadaan itu tentu sangat tidak mudah, kita harus mengejarnya dan banyak waktu dan energi yang harus dikeluarkan. Ketika kita kehilangan fokus dan beralih pada jalan yang lain Allah akan selalu memperingatkan kita untuk kembali berada di jalur yang benar, jikalau kita menyimpang Allah akan mendidik dan mendisplin kita dengan cara-Nya yang bijaksana.
Mengejar kekudusan merupakan proses yang berlangsung terus-me-nerus dan bersifat progresif, semakin hari semakin kuat, semakin hari sema-kin hidup dalam kekudusan. Erwin W. Lutzer mengatakan: “Sekalipun kita menjadi Kristen secara instan di dalam iman kepada Kristus, tetapi mengenal Allah dan bertumbuh dalam iman adalah proses bertahap. Tidak ada jalan pintas untuk kematangan.” Mengejar kekudu-san lebih identik dengan berlari maraton daripada berlari jarak pendek (sprint), mengejar kekudusan tidak memiliki garis finish, kecuali karena kematian atau kedatangan Kristus. Tantangan berlari jarak jauh adalah kelelahan, kebosanan, ganguan dari pihak lawan dan menuntut konsentrasi serta fokus yang jelas dan kuat. Ra-sul Petrus mengingatkan: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1 Pet. 5:8-9).

Berlari dan Tetap Fokus

Segala sesuatu yang dilakukan hanya sebagai pemenuhan kewa-jiban akan menjadi beban yang sangat memberatkan dan menambah kesusahan hidup bagi seseorang, demikian halnya berlaku bagi pengudusan. Mungkin ba-nyak orang Kristen yang memikirkan hal kekudusan hidup sebagai sesuatu momok yang menakutkan dan menambah beban hidup di dunia yang sudah penuh dengan tantangan dan kesusahan. Namun sesungguhnya ketika pengudusan dikerjakan berdasarkan cinta kasih dan rasa sukacita yang didadasari atas besarnya kebaikan Allah di dalam hidup orang percaya akan membuat pengudusan itu men-jadi sesuatu yang indah dan agung untuk dikejar. Jangan biarkan fokus Anda buyar oleh kemilau dan pesona dosa serta banyaknya orang yang berminat terhadapnya, tetaplah fokus ke-pada Allah dan minat-Nya terhadap keselamatan kita. Kitab Ibrani menuntun kita untuk fokus: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu ke-pada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibr. 12:2).
Mengejar kekudusan bukanlah sekedar berjalan lambat atau sekedar berjalan cepat tetapi berlari dengan mengerahkan semua kekuatan dan tetap fokus pada tujuan kekudusan. Mengejar kekudusan berarti menyingkirkan segala keinginan untuk berbuat dosa. Jikalau seorang Kristen tidak sedang mengejar kekudusan dalam hidupnya, itu berarti ia sedang bermalas-malasan dengan keroha-niannya, atau lebih parah lagi ia sedang tertidur dan terlena dalam kubangan dosa dan jerat iblis. Bangun dan bangkit dan melatih diri untuk mencintai kekudusan Allah adalah langkah terbaik untuk setiap anak Tuhan yang telah mengalami kebaikan Allah dalam kematian Kristus. Sikap terbaik adalah tunduk dan taat serta merendahkan diri di hadapan Allah, bertobat dan kembali berlari di jalur kekudusan Allah. Yesus Kristus merupakan contoh hidup dan sempurna dalam mengejar kekudusan hidup: “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.” (Ibrani 12:3-4). Soli Deo Gloria.

[Sumber:http://www.reformata.com/01817-mengejar-kekudusan-.html]


Leave a Reply