Peran Iman dan Pekerjaan Roh Kudus

Inspirasi Iman

Pdt. Robert R. Siahaan

 

Ketika seseorang menjadi Kristen, Allah memberikan suatu kehidupan yang baru di dalam diri orang tersebut, dan kehidupan baru inilah yang seharusnya memberikan perbedaan kualitas hidup dalam diri orang Kristen dibanding orang yan g tidak percaya. Hal pertama yang dianugerahkan Allah kepada orang Kristen adalah iman, dengan iman inilah kemudian Allah berkarya untuk memberikan segala sesuatu yang akan diencanakan oleh Allah di dalam diri setiap orang Kristen. Rasul Paulus menuliskan “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Selain untuk keselamatan, iman juga berperan aktif dalam kehidupan orang Kristen sehari-harinya, hanya dalam iman juga semua perbuatan orang Kristen dapat berkenan kepada Allah.  Setelah kelahiran baru yang dialami oleh orang Kristen,  Allah menghendaki suatu kehidupan yang mendemonstrasikan kemenangan Kristus di kayu salib dengan kemenangan-kemenangan umat-Nya atas dosa. Hanya dengan hidup beriman kepada Allah semua janji kemenangan atas dosa dapat dialami oleh orang Kristen, dan kemenangan ini didasarkan pada kemenangan Kristus di kayu salib (1 Kor 15:54,57). Iman kepada Kristus merupakan kekuatan yang mendasari setiap usaha orang Kristen untuk menghadapi setiap tantangan hidup di dunia ini (Kol 2:7).  Melalui gerakan Reformasi Protestan orang percaya pada waktu itu hingga zaman ini diingatkan dan disadarkan bahwa setiap orang Kristen dibenarkan hanya melalui iman (Efe 2:8-9; Roma 3). Selain itu iman juga merupakan pembuka bagi proses pengudusan hidup orang Kristen, dan merupakan jembatan yang menyambungkan persekutuan antara orang Kristen dengan Allah (Efe 3:17). Melalui iman juga orang Kristen menerima fakta bahwa di dalam Kristus dosa tidak berkuasa lagi atas hidup orang percaya, dan setiap orang Kristen tidak lagi berada di bawah hukum dosa namun telah berada di dalam anugerah Allah (Rm 6:6,14). Anthony Hoekema (Saved by Grace) mengatakan bahwa persekutuan dengan Kristus di dalam iman merupakan jiwa dari pengudusan, iman bukan hanya organ yang menerima tetapi juga menghasilkan buah. Buah yang dihasilkan dari kehidupan yang beriman tentulah buah kekudusan, kebenaran, kebaikan yang dilahirkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan iman orang-orang percaya dimampukan untuk mematikan perbuatan-perbuatan dosa dan menyerahkan seluruh hidupnya bagi kemuliaan Allah (Rm 8:13). Iman adalah perisai bagi setiap orang percaya untuk mematahkan semua serangan si jahat (Efe 6:16).

Peran Iman  dan Peran Roh Kudus

Alkitab menegaskan bahwa hanya dengan iman orang Kristen sanggup menghasilkan perbuatan-perbuatan baik , dan tujuan dari perintah Allah di dalam diri orang Kristen adalah hidup dalam kasih yang lahir dari hati nurani yang murni dan iman yang tulus (1Tim 1:5). Namun sekalipun setiap orang Kristen telah dikaruniakan iman dalam dirinya, ternyata iman itu sendiri tidak bekerja berdasarkan kekuatan dan kemampuan orang-orang yang memiliki iman itu. Alkitab juga menegaskan bahwa hanya dengan kehadiran dan pertolongan Roh Kudus saja orang percaya menerima kekuatan untuk menghentikan dosa-dosanya dan menghasilkan buah Roh (Gal 5:16, 22-23).  Setiap orang yang dipanggil dan dipersatukan dengan Kristus, dilahirbarukan oleh Roh Kudus, dan dalam regenerasi ini orang Kristen menerima Roh Kudus (Gal 4:6; Rm 6:14). John Murray mengatakan bahwa pengudusan secara khusus adalah tindakan berdiamnya Roh Kudus dalam diri orang Kristen dan pengarahan dari Roh Kudus. Alkitab menegaskan bahwa iman juga harus nyata dalam perbuatan sehari-hari, Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Katekismus Heidelberg mengekspresikan kebenaran ini bahwa tidak mungkin orang yang hidup di dalam Kristus namun tidak menghasilkan buah-buah kebaikan. Dengan demikian Alkitab bukan hanya mengajarkan pembenaran melalui iman, namun juga menegaskan mengenai pengudusan melalui iman. Sehingga tidak ada perbuatan yang benar yang dapat dihasilkan oleh hidup orang Kristen di luar imannya kepada Allah dan di luar kehadiran Roh Kudus dalam dirinya.

 

Demikian juga dengan pembaruan-pembaruan yang terjadi di dalam diri orang percaya hanya akan terjadi dalam konteks imannya kepada Kristus dan dalam pertolongan Roh Kudus.  Keinginan-keinginan, pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan orang Kristen akan sangat berbeda dari pola kehidupan orang yang bukan Kristen jika hidupnya betul-betul senantiasa dalam iman kepada Kristus dan dalam pimpinan Roh Kudus. Alkitab juga menegaskan bahwa orang Kristen memasuki proses pembaruan tidak berdasarkan kemampuan mereka sendiri, namun oleh kehadiran dan pertolongan Roh Kudus (1Pet 1:2; Rm 15:16; 2Tes 2:13; Tit 3:5). Charles Hodge dalam buku sistemtiknya menegaskan bahwa seluruh Alkitab mengajarkan mengenai kesatuan antara orang pecaya dengan Kristus, dan mengenai hadirnya Roh Kudus yang memberikan kekuatan dan karakter supranatural. Manusia tidak membuat dirinya sendiri kudus dan benar, manusia tidak membuat dirinya sendiri bertumbuh, manusia tidak menetapkan sendiri tujuan hidupnya berada dalam Tuhan, tetapi karena iman yang dianugerahkan kepada mereka membuat mereka melakukannya dan memiliki aspek-aspek itu. Oleh karena itu pertumbuhan dan kedewasaan iman orang Kristen jelas tidak terjadi karena kemampuan yang ada dalam diri orang Kristen itu semata. Namun lebih merupakan karena pertolongan dan kehadiran Roh Kudus yang tinggal dalam diri setiap orang percaya (Yoh 14:17; Rm 8:9). Hanya apabila seorang Kristen hidup dalam Roh Kudus maka jaminan mengenai pertumbuhan iman dan kerohaniannya dapat benar-benar terjadi. Setiap anak-anak Tuhan dikuduskan dan dibebaskan dari dosa melalui kematian Kristus di kayu salib (1 Pet 1:18-19), kemudian selanjutnya secara terus menerus dikuduskan oleh Roh Kudus, karena Roh Kristus ada dalam diri mereka. (Rm 8:8-15).

Sekalipun orang Kristen telah dibebaskan dari kutuk dosa dan telah menerima anugerah iman dan kehadiran Roh Kudus dalam hidupnya, namun bukan berarti orang Kristen telah bebas sepenuhnya dari masalah dosa dan perbuatan dosa. Oleh karena setelah orang percay adiselamatkan dan ditebus dari kematian kekal ia masih hidup dalam natur yang masih cenderung untuk berbuat dosa karena hidup dalam daging dan dalam dunia yang berdosa dan penuh dengan dosa. Alkitab menegaskan bahwa setiap orang Kristen akan menghadapi peperangan rohani dan pergumulam melawan dosa (Gal 5:16-17; Kol 3:3-5). Alkitab mengajarkan bahwa di dalam diri orang Kristen masih  ada peperangan antara kerohanian dan kedagingan, pergumulan antara manusia baru dan manusia lama, dan peperangan ini menjadi peperangan yang sulit dan serius dalam setiap diri orang Kristen. Apa yang diungkapkan rasul Paulus dalam Roma 7, merupakan penegasan dan pengajaran bahwa hal itu akan menjadi gambaran dari pengalaman iman yang akan terjadi dalam setiap diri orang percaya yang hidup dalam Kristus.  Dalam hal ini juga Paulus menegaskan bahwa orang percaya tidak dapat menjalani pertempuran ini dan memenangkan peperangan ini atas kekuatannya sendiri. Hanya dalam iman kepada Kristus dan dengan kehadiran serta pimpinan Roh Kudus saja orang-orang percaya dimampukan untuk memenangkan peperangan itu (Rm 8:1-2; 8-15). Dalam kitab Galatian, Paulus mengajarkan untuk mematikan segala keinginan-keinginan dosa dengan kekutan Roh Kudus (Gal 5:16).  Hoeksema mengatakan bahwa secara prinsip dan status kekristenan semua orang Kristen adalah sempurna, namun berkaitan dengan natur keberdosaannya, orang Kristen sangat tidak sempurna di dunia ini sampai ia mati. Namun juga tidak berarti orang Kristen tidak memiliki kekuatan untuk dapat hidup dalam kebenaran dan tuntutan Allah, atau adanya pergumulan dosa dalam diri orang Kristenjuga bukan sebagai petunjuk bahwa orang Kristen masih hidup dalam kematian atau dalam kelemahan. JC. Ryle mengatakan bahwa justru dengan hadirnya pergumulan melawan dosa adalah sebagai bukti bawha orang Kristen tidak lagi hidup dalam kematian tetapi sedang berjuang untuk hidup dalam kebenaran. Allah juga tidak membiarkan orang percaya bergumul dan berprang sendiri menghadapi dosa-dosanya, Ia telah menyediakan berbagai alat yang dapat digunakan oleh orang Kristen untuk berperang melawan musuh-musuh rohani (Ef 6:10-13). Bukan hanya perlengkapan peralatan rohani yang diberikan Allah kepada orang percaya, malah Allah telah memberikan Roh-Nya untuk berada di dalam diri umat-Nya, justru seringkali orang Kristen yang tidak menyadari dan tidak mengandalkan kehadiran Roh Kudus dalam peperangan rohani yang dihadapinya. Marilah kita menghadapi pergumulan hidup melawan penguasa-penguasa di udara dan dalam menghadapi keinginan-keinginan dosa dengan mengandalkan kehadiran dan kekuaatan Roh Kudus yang senantiasa hadir dan menyertai kita selama-lamanya.

Alkitab juga menyatakan bahwa kehadiran Roh Kudus di dalam diri orang percaya adalah juga sebagai jaminan kemenangan dalam menghadapi dosa dan mampu menjalani proses pengudusan hidup (Gal 5:23; Ef 1:15-16; 2 kor 1:22). Sehingga ketika seorang menjadi Kristen ia disebutkan bahwa ia dilahirkan dalam Roh Kudus, disucikan oleh Roh Kudus, berjalan dalam Roh Kudus, bersekutu dengan Roh Kudus, hidup dalam Roh Kudus, bersukacita dalam Roh Kudus, karena Roh Kudus memang tinggal di dalam orang percaya. Roh Kudus bekerja melampaui kemampuan manusia dan keinginan-keinginannya. Roh Kudus sanggup mempengaruhi natur dasar manusia dan menyentuh alam bawah sadar manusia dan terus menerus mengerjakan rencana-Nya yang indah dalam diri orang percaya. Roh Kudus tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada manusia,  Ia menuntun setiap anak-anak Allah untuk hidup dan menghasilkan buah-buah kebenaran yang berasal dari diri-Nya sendiri. Kehadiran Roh Kudus di dalam diri orang Kristen merupakan kehadiran Allah di dalam diri orang percaya. Sumber dari segala kehidupan spiritual orang percaya hanya berasal dan bersumber dari kehadiran Roh Kudus di dalam diri setiap orang percaya. Marilah kita senantiasa tunduk dan taat dan senantiasa bergantung pada Allah Roh Kudus. Soli Deo Gloria!


Leave a Reply