Perkataan Menguatkan

Study By: Richard L. Strauss Printer-friendly versionSend to friend

Saat anak kita bertumbuh, satu hal yang Mary dan saya coba ajarkan adalah tidak egois terhadap orang lain. Tapi harus saya akui, saya tidak terlalu memperhatikan betapa perbincangan kita egois dan tidak pengertian. Hal ini tidak muncul dalam pikiran kalau saya harus mengajar mereka bagaimana mengkomunikasikannya dengan cara yang tidak egois dan memberi teladan pada mereka, mungkin saya sendiri tidak belajar banyak tentang itu.

Menilai dari apa yang saya dengar, saya curiga bahwa ada orang yang tidak belajar tentang komunikasi yang tepat dengan yang lain. Sebagian dari kita memiliki kecenderungan untuk memotong saat orang lain sedang bicara, mendominasi percakapan dengan cerita tentang diri sendiri, menunjukan sedikit ketertarikan terhadap perkataan orang lain, tidak sabar dan terganggu saat mereka tidak setuju dengan kita, mengatakan hal yang kasar untuk menyerang dan menghina, atau melakukan kesalahan dalam percakapan yang menunjukan pertimbangan yang kurang.

Kita mungkin sedikit menghargai kekuatan perkataan kita “siapa kita?” kita bertanya. “bukan siapa-siapa. Tidak ada artinya apa yang saya katakan. Perkataan saya tidak mempengaruhi orang lain.” Tapi mereka terpengaruh! Kata-kata mempengaruhi setiap orang yang kita ajak bicara—semuanya. Itu punya kekuatan untuk menolong dan menyembuhkan, atau kekuatan untuk merusak dan melukai. “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan,” tulisa Raja Salomo (Proverbs 12:18). Sebagian orang Kristen kata-katanya menikam seperti pedang kedalam jiwa seseorang, menyebabkan luka batin pasangan mereka, anak, tetangga, pelayan, operator telepon, atau orang lain yang menghalangi mereka.

Seperti yang kita lihat, Paulus dalam suatu bagian menggunakan kata itu (Ephesians 4:25-32). Dan dalam salah satu ayat dia menringkas beberapa prinsip komunikasi yang baik: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Ephesians 4:29). Paulus menegakan 2 kategori komunikasi dalam ayat itu: perkataan yang tidak baik dan perkataan yang membangun. Hal yang pertama, harus sama sekali dihilangkan dari mulut kita. Tidak ada tempat sedikitpun untuk hal ini. Kita harus mengeluarkannya dan menggantinya dengan yang kedua. Mentaati perintah ini bisa sangat mengembangkan kemampuan kita rukun bersama yang lain. Tapi kita perlu tahu perkataan apa saja yang termasuk dalam kategori ini. Mari kita melihatnya—pertama perkataan yang tidak sehat atau merusak, kemudian perkataan yang membangun atau memperbaiki.

Perkataan yang Merusak

Kata ini artinya “membusuk, memburuk atau hancur.” Itu biasa digunakan untuk buah yang busuk atau hancur (Matthew 7:17-18), dan ikan yang busuk atau rusak (Matthew 13:48). Hal yang tidak sehat biasanya bau, tidak berguna, tidak bernilai atau tidak menguntungkan—hanya cocok untuk jadi sampah. Tapi lebih buruk lagi, saat kita meletakan apel busuk kedalam tong bersama dengan apel baik, itu akan menghancurkan yang lainnya juga. Itu tidak hanya jadi sampah, tapi berbahaya. Itu sangat berdampak bagi yang lain.

Paulus menggunakan kata itu dalam pengertian menghancurkan yang lain, karena dia membandingkan perkataan yang merusak dan yang membangun—perkataan yang membangun, menguatkan dan menyehatkan. Perkataan yang tidak sehat sebaliknya. Itu akan menghancurkan, dan menyakitkan. Kata-kata apa saja yang Paulus masukan kedalam kategori ini? Konteks ini menunjukan beberapa kata. Berbohong bisa melukai (v. 25). Kata-kata pahit bisa melukai (v. 31). Perkataan yang marah bisa melukai (v. 31). Kata-kata pertikaian dan gossip bisa melukai (v. 31). Semuanya dibahas dalam bab berikut. Perkataan apa lagi yang bisa melukai orang dan hubungan? Kita lihat beberapa diantaranya.

Kata-kata yang Tajam. Salomo bicara tentang perkataan yang menusuk seperti sebuah pedang (Proverbs 12:18). Itu terdengar seperti perkataan yang tajam. Daud berurusan dengan orang yang lidahnya tajam. Dia beberapa kali menyebutnya dalam Mazmur. Sebagai contoh, dia berkata tentang mantan temanya Ahithophel, yang berbalik melawan dia, mengatakan kata-kata seperti pedang terhunus (Psalm 55:21). Dia bicara tentang orang yang lidahnya seperti pedang (Psalm 57:4, 59:7, 64:3). Kita mengenal orang yang memiliki lidah yang tajam. Mereka berbakat dalam sarkasme. Mereka ahli dalam memotong, membelah, mematahkan. Mereka memiliki pikiran tajam yang melempar perkataan yang tajam sehingga orang tidak bisa mengikutinya. Mereka melakukan itu untuk kesenangan, tapi tidak memikirkan bagaimana hal itu menyakiti korban. Serangan mulut mereka merupakan hal yang Paulus kutuk dalam Ephesians 5:4.

Sebagian suami dan istri menjadikan acara perkumpulan sebagai ajang saling menjatuhkan. Daripada mengatasinya secara pribadi sehingga mereka bisa mengetahui perasaan dan pemikiran masing-masing, mereka lebih mudah menjatuhkan pisau kedalam pembicaraan mereka saat pasangan mereka tidak bisa membalas. Seorang suami yang berlidah tajam berkata, “Dottie tidak tidur telalu malam. Dia bangun tepat waktu untuk menonton opera sabun disiang hari.” Tapi Dottie tidak mau kalah: “Max selalu ingat ulang tahun saya—tiga bulan kemudian.” Dan beberapa luka yang diderita akan menimbulkan permusuhan, mengarah pada pembalasan, dan kemudian menghancurkan hubungan. Perkataan yang Merusak! “Jangalah perkataan yang tidak sehat keluar dari mulutmu.”

Kata-kata Omelan. Kitab Amsal bicara sedikit banyak tentang pertengkaran dan akibatnya. “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.” (Proverbs 21:9). “Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah.” (Proverbs 21:19). “Seorang isteri yang suka bertengkar serupa dengan tiris yang tidak henti-hentinya menitik pada waktu hujan.” (Proverbs 27:15).

Ada perbedaan antara mengomel dengan mengingatkan. Suatu peringatan sangat bersahabat dan bebas dari ketidak sabaran dan gangguan. Tapi omelan merupakan pengulangan, permintaan yang ditandai dengan kemarahan. Inilah istilah Salomo “suka bertengkar” Suatu omelan cenderung memarahi, menyalahkan, membuat tuduhan yang menyerang harga diri seseorang. “Kapan kamu mau mencat rumah? Apakah kamu tidak peduli apa kata orang?” Itu suatu percobaan menciptakan rasa bersalah. “Apakah kamu tidak tahu cara lain selain menghisap supmu? Kamu makan seperti binatang.” Itu percobaan untuk mempermalukan.

Saya tidak tahu kenapa Salomo hanya mencari-cari kesalahan istri. Mungkin itu karena dia memiliki banyak. Tapi pria juga sama salahnya. “Saya harap kamu kehilangan beberapa kilo. Saya malu bersama kamu didepan umum.” Kata-kata itu sangat merendahkan dan menghina. Itu menyakiti dan menghancurkan. “Sudah saya katakan ratusan kali kalau saya tidak suka kopi sekeras ini.” Itu sekali lagi merendahkan. Maksudnya, “apa yang terjadi dengan kamu? Tidak mengerti bahasa ? Atau kamu tidak bisa mengingat permintaan yang sederhana? Atau kamu memang tidak bisa melakukan apapun dengan benar ?”

Perkataan omelan seperti itu sangat merusak. Itu mengganggu, seperti tetes air dari keran bocor. Itu menyakiti dengan membuat orang lain merasa tidak enak. Perkataan seperti itu membangun rasa bersalah, menyebabkan mereka merendahkan diri, membuang harga diri mereka. Hasilnya semakin merusak hubungan. Tidak baik membuat orang lain merasa buruk. Saat kita meminta seseorang melakukan sesuatu, dan jika mereka setuju tapi gagal, kita bisa mengingatkan mereka dengan kasih dan baik tanpa menyatakan kemarahan atau merendahkan. “Janganlah perkataan tidak sehat keluar dari mulut anda.”

Kata-kata yang Berlebihan. Ada jaring kesalahan yang sudah kita bahas dalam bab sebelumnya yang akan diingatkan kembali karena berhubungan dengan perkataan yang menghancurkan hubungan, dan itu adalah pernyataan yang dilebih-lebihkan. Perkataan yang biasanya menggunakan kata selalu dan tidak pernah. “Kamu tidak pernah mengajakku makan.” “Kamu selalu memberi saya anggur saat pulang kerja …” “Semua yang bisa kamu pikir hanyalah ________” (isi tempat kosong dengan, makan, seks, pakaian baru, dll.). Pernyataan yang Absolute biasanya tidak benar dan cenderung menimbulkan permusuhan. Itu menyakiti kita, sebenarnya kita mencoba menyatakan hal yang benar tapi akhirnya pernyataan itu jadi salah, untuk memperbaiki harga diri kita yang terluka.

Saat seorang istri berkata, “Kamu tidak pernah mengajak saya keluar makan,” suaminya mungkin menjawab, “Tentu saya pernah. Saya ingat pernah mengajak kamu 6 minggu lalu. Kamu tidak mengingat apapun. Dan selain itu kamu tidak menghargai apapun yang saya berikan.” Dan dimulailah perkelahian. Hal yang bodoh adalah mereka mempertengkarkan masalah yang salah. Masalahnya bukan kapan mereka keluar makan terakhir kali. Tapi mungkin istrinya merasa diabaikan atau bekerja terlalu keras. Dia perlu peka terhadap kebutuhan istri. Tapi jika istri mencoba menyatakan keinginan atau perasaannya, maka nyatakan secara langsung dengan kasih dan baik daripada membuat pernyataan absolute yang menuduh, dari situ ada kemungkinan hubungan bisa dikuatkan bukannya jadi tegang. “Janganlah perkataan yang tidak sehat keluar dari mulutmu.”

Kata-kata Dendam. Petrus mengidentifikasi beberapa perkataan yang tidak sehat yang bisa melukai hubungan. “Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” (1 Peter 3:8-9). Kita biasanya merespon dengan marah terhadap tuduhan. Kita menjawab kemarahan dengan kemarahan, sarkasme dengan sarkasme. Itulah nature manusia kita.

“Kamu tidak pernah mendengar saya,” tuduhnya.

“Itu karena kamu tidak pernah mengatakan apapun yang bisa didengar,” jawabnya.

Kita biasanya hidup seperti pepatah, “Saat terluka, balas dan lukai kembali.” Dan itu hanya meningkatkan konflik kita, sampai itu mencapai perceraian.

“Bisakah anda mengatakan pada pengadilan sekarang apa yang terjadi antara anda dan istri anda sampai masuk kepersidangan ini?”

“Baik,” kata sang suami. “Itu seperti pring dan panic melayang.”

Petrus mengusulkan agar kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan atau penghinaan dengan penghinaan. Kita telah memiliki nature baru, nature supernatural yang mampu berespon seperti Tuhan Yesus sendiri. “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Peter 2:23). Secara sadar bersandar pada kuasaNya, kita tidak hanya bisa menahan kata-kata dendam, tapi kita bisa bicara hal yang bisa menenangkan orang yang menuduh, menyembuhkan luka yang dialami dan menguatkan hubungan.

Perkataan yang Membangun

Kita sudah melihat beberapa perkataan yang menghancurkan hubungan; sekarang kita melihat beberapa perkataan yang menyembuhkan dan menguatkan—perkataan yang membangun. “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Ephesians 4:29). Disini adalah beberapa prinsip Alkitab yang bisa mengatasi banyak masalah komunikasi kita. Jika kita menggunakannya untuk mengatur kata-kata kita, kita akan melihat hubungan kita akan meningkat. Tanyakan pada diri anda, “Apakah kata-kata saya membangun—apakah kata-kata itu membangun orang dalam hidup saya atau sebaliknya?” “Apakah perkataan ini yang mereka perlukan disaat ini?” “Apakah perkataan ini mendatangkan kasih karunia pada mereka—apakah itu akan menguntungkan mereka?”

Jika seorang istri berkata pada suaminya, “kamu tidak pernah mendengar aku,” dia pasti tidak ingin mendengar jawaban, “Kamu tidak pernah mengatakan sesuatu yang pantas didengar.” Pernyataan pertama sudah salah, tapi 2 kesalahan tidak akan menghasilkan kebenaran. Kesalahan kedua lebih melukai dan menghancurkan daripada yang pertama. Apa yang istri butuhkan saat itu? Perkataan yang membangun! Ini ada beberapa.

Kata-kata yang Lemah Lembut. Kita sudah menyebut perkataan yang lembut saat kita membahas kesalahan orang lain (bab 3). Tapi hal ini penting untuk ditekankan lebih lanjut. Salomo menulis, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman” (Proverbs 15:1). Kata lembut berarti penuh kasih, halus dan nyaman. Paulus mengatakan hal yang sama: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ephesians 4:32). Lidah yang menggerakan perselisihan juga bisa mengkomunikasikan kebaikan, kasih dan pengampunan saat dikontrol oleh Roh Kudus. Perkataan yang lemah lembut bisa menenangkan suasana setelah perkataan bodoh dinyatakan. Saat nafsu membara, tuduhan dibuat atau kejahatan dilontarkan, cobalah perkataan yang lembut. Usahakan bicara dalam kelembutan, tenang, nada yang baik, dan pilihan kata yang tidak mengancam atau bermusuhan. Itu seperti menuangkan air dingin di batubara yang menyala. Membutuhkan dua orang untuk bertengkar. Jika salah satu memutuskan ada cara yang lebih baik dan menolak bermusuhan, tidak akan ada perkelahian.

Kata-kata yang Pengertian. Jika kita hanya mau bicara hal yang membangun orang lain sesuai kebutuhan mereka, maka kita harus mengerti kebutuhannya. Itu membutuhkan pemikiran sebelum kita membuka mulut kita. Sebagian besar dari kita langsung melakukan hal pertama yang ada dalam pikiran saat kita diundang berkelahi. Salomo memiliki pengamatan tentang itu:

“Kaulihat orang yang cepat dengan kata-katanya; harapan lebih banyak bagi orang bebal dari pada bagi orang itu.” (Proverbs 29:20). “Hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat.” (Proverbs 15:28).

Sebagian dari pemikiran itu merupakan usaha mengerti apa perasaan orang lain yang ingin dikomunikasikan pada kita. Mereka mungkin kurang baik mengatakannya, tapi mungkin ada kebutuhan dibalik itu. “Kamu tidak pernah mendengar aku” terjemahannya “Saya tidak merasa kamu mendengar saya dengan baik sehingga saya tidak merasa dikasihi dan dimengerti. Dan saya terluka karena itu.”

Sangat disayangkan kita tidak bisa secara langsung menyatakan hal secara sederhana dan baik tentang apa yang kita inginkan dan rasakan, tapi sebaliknya kita menuduh, mengkritik, memanipulasi, membesar-besarkan, bertengkar atau menghakimi motivasi. Tapi kita semua memiliki masalah, dan itu bisa menolong kita mencoba untuk lebih sabar terhadap orang lain saat mereka tidak mengkomunikasikannya dengan baik, dan menolong kita menangkap apa yang ada dibelakan perkataan mereka. Kemudian kita bisa berespon dengan perkataan yang pengertian daripada pembalasan. Respon yang pengertian bisa seperti, “Anda mungkin benar. Saya mungkin tidak mendengar dengan baik seperti seharusnya. Dan saya bisa mengerti kenapa itu mengganggu anda. Itu juga mengganggu saya. Saya ingin melakukan lebih baik. Bisakah anda mengusulkan beberapa ide sehingga saya bisa berkembang dalam hal ini.”

Apakah anda lihat apa yang anda lakukan? Anda meyakinkan dia bahwa anda mengerti kenapa dia terganggu. Anda memberikan dia kesempatan bicara lebih banyak tentang itu, yang mungkin itulah apa yang dia inginkan. Anda membiarkan dia tahu anda tertarik membuat perubahan dalam hidup anda dan itu membuat dia lebih bahagia. Dan anda telah berfokus pada solusi, membuat pembahasan jadi berbuah daripada saling menyalahkan. Jawaban seperti itu bisa membangun dia, memenuhi kebutuhannya dan menguntungkannya. Itu baik dan mengampuni. Dan apa harganya bagi anda selain menyerahkan pendapat yang pintar yang sudah dari awal tidak benar? Kata-kata pengertian membangun dan mendorong.

Kata-kata Penghargaan. Rasul Paulus sendiri memberikan kita teladan dari kata-kata yang membangun. Dalam banyak suratnya dia memasukan kata-kata penghargaan dan apresiasi. Sebagai contoh, kepada jemaat Filipi dia menulis, “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini” (Philippians 1:3-5). Kepada jemaat Tesalonika dia menulis, “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.” (1 Thessalonians 1:2-3). Baik Paulus maupun jemaat Tesalonika tidak sempurna, tapi Paulus memuji mereka sebelum berhadapan dengan masalah mereka. Tidak ada satupun dari kita yang tidak memerlukan kata pujian. Tanpa itu, kita menjadi ragu dan tidak mampu berfungsi sepenuhnya.

Sebagian dari kita sepertinya berpikir bahwa orang akan jadi sombong jika kita memuji mereka terlalu sering. Sebaliknya! Orang sering menjadi sombong saat mereka kelaparan akan penghargaan. Suatu penghargaan yang tulus akan mendorong mereka untuk melakukan lebih baik.

Alan McGinnis menghubungkan pelajaran ini dalam kelas 2 di Wisconsin. Anak-anak semakin tidak bisa diatur, berdiri dan berjalan kesana-kemari daripada melakukan pekerjaan mereka. Dua psikolog menghabiskan waktu beberapa hari diruangan itu untuk mengamati. Mereka menemukan bahwa 7 kali dalam setiap 20 menit gurunya berkata, “duduk!” Tapi hal itu tetap berlangsung. Mereka mengusulkan dia meningkatkan perintah, dan itu dilakukannya, 27.5 kali dalam setiap 20 menit. Jalan-jalan dikelas meningkat 50 persen. Kemudian mereka menyarankan dia menghilangkan perintah sama sekali dan memberi pujian pada anak-anak yang duduk dikursi mereka dan melakukan pekerjaan mereka. Jalan-jalan dikelas berkurang 33 persen dari situasi awal.7

Psychologists yang mengatakan hal itu, artinya kita perlu 4 pernyataan positif untuk mengimbangi 2 perkataan kritik. Anak yang nakal setidaknya satu – satu. Sebagian dari kita juga sama. Kita menikmati kerjasama dengan mereka yang menunjukan rasa penghargaan pada kita dan kita menolak mereka yang mengkritik kita. Itu akan membuat perubahan yang berarti dalam cara kita rukun bersama yang lain jika kita melihat hal positif dalam hidup mereka dan menyatakan penghargaan kita. Seorang suami bisa berkata, “Ini makanan yang enak. Terima kasih untuk waktu dan usahanya.” Pimpinan sekolah minggu bisa berkata pada seorang guru, “Terima kasih untuk kesetiaan bagi kelas. Saya yakin anda pasti ada kecuali diberitahu lebih dulu.” Pernyataan seperti itu menyatakan pesan penting. Mereka berkata, “Saya peduli terhadap kamu. Kamu penting bagi saya. Saya menghargai kamu.” Itu semua pernyataan yang membangun.

Ini bukan pujian yang salah dimana orang sering menggunakannya untuk keuntungan diri. Alkitab memperingatkan hal itu: “Lidah dusta membenci korbannya, dan mulut licin mendatangkan kehancuran” (Proverbs 26:28). Tapi itu mendorong orang saat kita dengan tulus memuji hal yang terpuji dalam diri mereka. Latih diri anda untuk melihat mereka yang disekitar anda—pelayan ditoko, tetangga yang sulit, usher digereja, pasangan anda, anak anda, orangtua anda, karyawan anda, bos anda—setiap orang!

Mari kita memandang Firman Tuhan dengan serius dan mulai memperhatikan kata-kata kita. Buang semua yang bisa merusak orang lain dan menyebabkan hubungan anda membusuk. Gantikan dengan kata-kata yang membangun, memenuhi kebutuhan, dan melayani hidup orang lain. Kita akan mendapat keuntungan saat kita mengalami hubungan yang harmonis.


7 Reprinted by permission from The Friendship Factor by Alan Loy McGinnis, copyright 1979, Augsburg Publishing House, pp. 93-94. http://bible.org/seriespage/perkataan-menguatkan

 


Leave a Reply